Jumat, 20 September 2013

KETIKA IBLIS DAN BIDADARI JATUH CINTA



KETIKA IBLIS DAN BIDADARI
JATUH CINTA
Gusmiadi
Mataram 18 juni 2013          
12:53 am

Suasana pagi di padang bunga waktu itu sangat tenang. Seperti hari-hari biasanya. Hanya terdengar nyanyian dari sekawanan burung yang  bermain di atas pohon. Terlihat sekawanan kumbang berlalu lalang bermain di kuntuman bunga yang masih berselimutkan sejuk dan beningnya embun. Berparas indah dan terberai rambut sang bidadari berpakaian putih yang melambai tertiup angin. Seorang bidadari yang kesepian. Bidadari itu tak pernah bertemu dengan siapapun, dari bangsa manusia maupun jin, hanya kupu-kupu yang selalu menemaninya bermain menyemai bunga-bunga yang mekar dan indah. Bidadari ini datang ke bumi untuk bermedi. Waktu berlalu silih berganti. Musim berganti datang dan pergi namun dipadang itu bunga selalu mekar yang membuat tempat itu menjadi indah. Bidadari ini bernama Laraspati, di kerajaan bidadari Laraspati memiliki seorang kekasih bernama Gagahwana. Mereka saling mencintai. Tapi Gagahwana memiliki sifat keras dan temperamen terhadap Laraspati yang membuatnya merasa tersiksa. Namun Gagahwana tidak di perbolehkan untuk turun ke bumi menemani Laraspati. Tapi karena keindahan tempat yang dia singgahi dia lupa untuk kembali ke langit dan Laraspati bisa menenangkan dirinya dari sifat keras yang dimiliki oleh Gagahwana.

Terdengar sebuah kabar dari kerajaan bangsa iblis yang menghuni sebuah goa yang terletak di samping air terjun di dalam hutan. Kerajaan iblis itu dipimpin oleh seorang raja bernama Sharom dengan permaisurinya Limbri. Mereka mempunyai satu keturunan bernama Gimbri Sharomon. Nama itu di ambil dari nama kedua orang tuanya. Hingga pada suatu hari pangeran Gimbri keluar goa untuk mencari ilmu kesaktian. Setelah mendapatkan izin dari kedua orang tuanya. Gimbri merupakan salah satu iblis yang tergolong jahat. Beberapa desa dia singgahi dan dia buat kekacauan di desa itu. Desa terakhir yang dia singgahi adalah desa Remang. Di desa ini Gimbri kembali membuat kekacauan, namun karena penduduk desa ini termasuk orang-orang yang taat beragama. Karena kesaktian ilmu yang Gimbri miliki tidak begitu besar, Gimbri kewalahan mengacau desa ini dan akhirnya ia pergi.

Gimbri terus melaju membelah hutan belantara melewati bukit dan pegunungan. Hingga dia menemukan padang bunga yang indah. Gimbri terkejut melihat keindahan tempat itu, baru pertama kali dia menemukan tempat yang begitu indah. Gimbri berjalan pelan tak melepas pandang dari hamparan bunga yang segar. Di tengah indahnya bunga Gimbri melihat sosok perempuan  cantik jelita bermain dengan kumbang. Menelisik tajam bagai mata elang Gimbri memperhatikan perempuan itu. Semakin dekat semakin terkesima sosok iblis muda ini. Gimbri mencoba untuk semakin dekat dan terus mendekat. Laraspati tidak mengetahui kedatangan iblis itu.
“siapakah gerangan yang cantik jelita?”
 Gimbri sudah berdiri tepat di belakang Laraspati. Laraspati menoleh dan terkejut melihat iblis itu yang secara tiba-tiba sudah berada di dekatnya tanpa dia sadari. Laraspati berlari menelusuri mekarnya bunga yang selalu dia semai dengan kecantikannya. Iblis itu mengejar dengan kekutan yang dia miliki. Laraspati menghentikan langkah kakinya karena kecepatan iblis itu yang sudah berada di hadapan Laraspati yang berlari.
“kamu siapa? Jangan ganggu saya”
Laraspati melontarkan pertanyaan dengan badan gemetar dan ketakutan karena iblis itu terlihat sangat buruk. Laraspati juga baru pertama kali melihat sosok seperti yang berada tepat di hadapannya itu.

“kamu jangan takut, aku tidak akan melukaimu, aku hanya kebetulan saja melewati tempat ini”
iblis itu mencoba menenangkan bidadari itu.
“engkau belum menjawab pertanyaanku. Siapakah gerangan yang cantik jelita?”
“Laraspati”
bidadari itu memperkenalkan dirinya sambil mencoba menghilangkan rasa takutnya.
 “gerangan ini siapa?”
 Laraspati berbalik tanya.
“Aku Gimbri Sharomon seorang pangeran dari kerajaan iblis di bumi ini, baru pertama kali saya melihat gadis secantik Laraspati, dari bangsa mana?”
 Gimbri penasaran Laraspati berasal dari mana.
“Aku adalah bangsa bidadari yang turun dari langit untuk bermedi mencari sebuah ketenangan.”
Mengetahui Laraspati bukan berasal dari bangsa iblis gimbri terkejut. Ternyata Laraspati adalah salah satu dari musuh bangsanya. Tapi karena kecantikan Laraspati, Gimbri tidak bisa berkutik di hadapan musuh. Gimbri semakin terkesima atas pesona sang bidadari. Beberapa percakapan mereka lakukan untuk saling mengetahui satu sama lainnya. Dan akhirnya Laraspati menyadari bahwa Gimbri tidak akan melukainya.
“mengapa Laraspati sendiri di tempat ini?”
Gimbri ingin tahu lebih jauh tentang Laraspati.
 “aku turun ke bumi dan menemukan tempat ini semata hanya untuk mencari sebuah ketenangan, aku memiliki seorang kekasih yang berada di langit namun dia sangat keras terhadapku. Dia terlalu mengekangku. Semua harus berdasarkan kemauan dia, jika aku tidak patuh, caci dan maki aku terima dan terkadang dia memukul saya”
Gimbri merasa kasihan mendengar cerita Laraspati. Dan ini merupakan kali pertama seorang iblis member rasa kasihan apalagi pada musuhnya karena tugas seorang iblis adalah untuk mengacau bangsa lain selain bangsa iblis.

Waktu terus berlalu, siang berganti malam Laraspati dan gimbri bersama di padang bunga itu. Mereka bermain bersama, menyemai bunga dengan kegembiraan tanpa di sadari gimbri telah melupakan tujuan utamanya untuk keluar dari goa mencari ilmu kesaktian. Siang itu terlihat langit diselimuti awan hitam. Tiba-tiba gemuruh menggelegar dan langit menangis membasahi bunga di tengah padang. Gimbri dan Laraspati berteduh di bawah sebuah pohon rindang. Mereka menunggu hujan segera reda. Laraspati merasakan dingin dari hujan yang turun dari langit.
“Gimbri badanku terasa dingin”
 ujar Laraspati. Dalam hati gimbri berkata bahwa ini adalah awal untuk menarik perhatian Laraspati.
“Laras, dengan kekuatan yang aku miliki aku bisa memberikanmu sebuah kehangatan yang akan membuat badanmu tidak merasakan dingin seperti ini”
Laraspati tersenyum dan berkata
“benarkah seperti itu, jika memang benar coba kau buktikan kepadaku”
 dengan segera Gimbri berdiri di hadapan Laraspati dengan mulut komat kamit sambil membaca matera dan terlihat ranting -ranting kayu yang berserakan di bawah pohon bergerak dan tertumpuk di depannya. Gimbri terus membaca manteranya tiba-tiba tumpukan kayu itu menyala membentuk sebuah api unggun. Laraspati dan gimbri duduk di hadapan api unggun tersebut. Rasa dingin yang dirasakan Laraspati berangsur hilang dari api iblis yang menyala di depannya. Hujan belum juga reda, mereka masih menunggu di hadapan api unggun.
“ sudah bertahun-tahun aku disni, dan sekian kali aku merasakan dingin ketika hujan turun dari langit. Dan baru pertama kali aku merasakan hangat ketika hujan, dan baru pertama kali aku berbicara di bawah pohon ini. Setelah hujan berhenti nanti aku akan mengajakmu ke suatu tempat dimana kamu bisa menikmati sebuah keindahan yang mungkin tak pernah kau lihat sebelumnya.”
 Gimbri penasaran tempat seperti apa dan keindahan yang ingin di tunjukkan.

Hujan perlahan mulai reda, sinar matahari sudah mulai menampakkan dirinya menembus celah-celah awan hitam dilangit yang secara perlahan pergi. Setelah hujan berhenti Laraspati mengajak gimbri berjalan mendaki sebuah bukit yang tidak terlalu tinggi. Mereka berdua sudah berdiri di atas bukit, terlihatlah lengkungan pelangi di atas hijaunya hamparan pegunungan. Gimbri terkesima. Gimbri semakin lupa dengan tujuan utamanya karena dia merasa nyaman di tempat itu bersama bidadari yang cantik jelita. Tanpa mereka sadari sambil menikmati indanya pelangi tangan mereka berdua tergenggam erat. Mereka berdua saling memandang dengan mata penuh harapan. Tatapan mereka seakan tidak mau lepas meski sebuah keindahan yang luar biasa terhampar di hadapan mereka. Mata yang berbinar terpancar dari wajah Laraspati dan tiba-tiba tanpa diduga sedikitpun oleh Gimbri, Laraspati mendekap memeluk tubuh Gimbri. Saat itu Gimbri sadar bahwa apa yang dia alami itu salah sehingga membuat tubuh Gimbri gemetar di pelukan Laraspati. Dalam hati Gimbri merasakan sebuah ketakutan. Seandainya apa yang dia alami saat itu diketahui oleh bangsa iblis maupun bangsa bidadari akan terjadi sebuah perang yang sangat besar. Di balik ketakutan itu Gimbri juga tidak mau menolak perasaannya bahwa dia menyukai Laraspati.
“Gimbri, maukah kamu menemaniku selamanya disini. Hidup bersamaku?”
mendengar permintaan Laraspati Gimbri terkejut dan segera melepas pelukan dari Laraspati.
“Laras, apakah kamu sadar dengan apa yang kamu katakan. Seandainya kita hidup bersama disini, dan menjalin kasih, akan terjadi sebuah bencana besar diantara bangsa kita. Kita ini berbeda. Aku dari bangsa iblis, sedangkan kamu dari bangsa bidadari yang tinggal di langit. Kita berbeda dan tempat kitapun berbeda. Tapi aku tidak mau pungkiri keadaan ini bahwa sesungguhnya aku juga punya rasa seperti apa yag kau harapkan”

Mereka berdua terdiam sejenak tanpa kata. Sedangkan mata mereka sudah lepas. Hanya suara burung yang melintas terdengar meramaikan suasana sepi di antara mulut kaku merekka berdua. Beberapa saat waktu mereka lalui dengan diam. Pelangipun sudah tak nampak lagi dilangit. Akhirnya mereka berdua menemukan kesepakatan. Mereka tidak mau mencampakan perasaan yang mereka rasakan. Dan akhirnya mereka menjalin kasih yang disaksikan oleh bunga yang mekar.

Dari langit Gagahwana mulai mencemaskan Laraspati. Sudah sekian tahun dia turun ke bumi tanpa ada kabar kapan dia akan kembali. Gagahwana memutuskan untuk turun ke bumi mencari kekasihnya itu. Berhari-hari Gagahwana terbang dari timur ke barat mencari Laraspati, tapi belum ada tanda-tanda keberadaan kekasihnya itu. Gagahwana terus terbang tanpa hentinya. Terciumlah wangi dari bunga yang merekah membuat Gagahwana merasa kalau disana Laraspati berada. Dia terus terbang mencari dimana sumber wangi tersebut. Dan akhirnya dia melihat hamparan padang yang sangat luas di tumbuhi oleh bunga-bunga beraneka warna yang harum semerbak. Tiba-tiba Gagahwana murka ketika melihat Laraspati sedang duduk dengan mesra di antara bunga-bunga itu. Gagahwana terbang dan mendarat tepat dihadapan mereka berdua. Gimbri dan Laraspati terkejut dan beranjak bangun dari tempat duduknya.
“Laraspati…! Apa-apaan ini?”
Laraspati tiba-tiba menangis sambil ketakutan melihat kedatangan Gagahwana. Kemudian berlari ke arah gagahwana dan memeluk kakinya
“kakang Gagahwana maafkan dinda”.
Saat itu api kemarahan membara di dalam diri Gagahwana melihat kekasihnya bercinta dengan iblis. Tanpa tanya siapa Gagahwana melepas pelukan Laraspati di kakinya. Laraspati terpelanting jatuh. Melihat tindakan Gagahwana, Gimbri melawan Gagahwana dan perkelahianpun tidak bisa di elakkan lagi.

Dua hari dua malam Gimbri dan Gagahwana bertempur. Berbagai jurus andalan mereka keluarkan. Tidak ada yang mau mengalah. Mereka sama-sama tangguh. Sedangkan Laraspati hanya menangis berurai air mata menyaksikan pertempuran itu. Pada puncak pertarungan Gagahwana dengan Gimbri, kekuatan terbesar mereka keluarkan. Mereka saling menyerang dan akhirnya Gagahwana terkena serangan Gimbri yang membuat Gagahwana terbakar oleh api iblis Gagahwana pun sirna. Gimbri tertawa atas kekalahan Gagahwana tanpa sadar sebilah keris beracun sudah menancap di perutnya. Beberapa saat Gimbri menyadari dia juga terkena serangan terakhir Gagahwana. Perlahan tubuh Gimbri melepuh terbakar racun keris itu. Tidak ada yang menang dalam pertempuran sengit itu. Laraspati terus menangis tanpa bisa berbuat apa-apa, di samping itu Gimbri dan Gagahwana sudah tewas. Langit menjadi gelap, gemuruh menggelegar dengan keras, terlihat langit seperti terbelah oleh sambaran petir. Laraspati terus menangis di tengah padang bunga itu meski dingin hujan menerpa tubuhnya. Laraspati berdiri menegadah kea rah langit dan berteriak beriringan dengan suara petir yang terus menggelegar.
“Akhhhh……………Tuhan, mengapa kau cipatakan aku menjadi bencana? Apakah seperti ini akhir dari ketenanganku di bumi selama ini. Ambillah aku kehadapanmu. Aku tidak mau menjadi bencana lagi di tempat ini”
Laraspati berjalan menuju badan Gimbri yang sudah melapuk oleh ganasnya racun dari keris milik Gagahwana. Laraspati mengambil keris itu dan dia tancapkan di tubuhnya. Tiba-tiba hujan berhenti seketika, tidak ada mendung lagi bahkan petirpun tak terdengar. Suasana seketika berubah menjadi cerah. Sinar matahari memancar ke tubuh Laraspati dan tubuh Laraspati berubah menjadi jutaan kupu- kupu beraneka warna dan terbang menuju bunga-bunga yang terhampar di padang yang luas itu. Kini padang bunga itu bernama Padang Bunga Bidadari.
SELESAI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar