KETIKA
IBLIS DAN BIDADARI
JATUH
CINTA
Gusmiadi
Mataram 18 juni 2013
12:53 am
Suasana pagi di
padang bunga waktu itu sangat tenang. Seperti hari-hari biasanya. Hanya
terdengar nyanyian dari sekawanan burung yang
bermain di atas pohon. Terlihat sekawanan kumbang berlalu lalang bermain
di kuntuman bunga yang masih berselimutkan sejuk dan beningnya embun. Berparas
indah dan terberai rambut sang bidadari berpakaian putih yang melambai tertiup
angin. Seorang bidadari yang kesepian. Bidadari itu tak pernah bertemu dengan
siapapun, dari bangsa manusia maupun jin, hanya kupu-kupu yang selalu
menemaninya bermain menyemai bunga-bunga yang mekar dan indah. Bidadari ini
datang ke bumi untuk bermedi. Waktu berlalu silih berganti. Musim berganti
datang dan pergi namun dipadang itu bunga selalu mekar yang membuat tempat itu
menjadi indah. Bidadari ini bernama Laraspati, di kerajaan bidadari Laraspati
memiliki seorang kekasih bernama Gagahwana. Mereka saling mencintai. Tapi
Gagahwana memiliki sifat keras dan temperamen terhadap Laraspati yang
membuatnya merasa tersiksa. Namun Gagahwana tidak di perbolehkan untuk turun ke
bumi menemani Laraspati. Tapi karena keindahan tempat yang dia singgahi dia
lupa untuk kembali ke langit dan Laraspati bisa menenangkan dirinya dari sifat
keras yang dimiliki oleh Gagahwana.
Terdengar sebuah
kabar dari kerajaan bangsa iblis yang menghuni sebuah goa yang terletak di
samping air terjun di dalam hutan. Kerajaan iblis itu dipimpin oleh seorang
raja bernama Sharom dengan permaisurinya Limbri. Mereka mempunyai satu
keturunan bernama Gimbri Sharomon. Nama itu di ambil dari nama kedua orang
tuanya. Hingga pada suatu hari pangeran Gimbri keluar goa untuk mencari ilmu
kesaktian. Setelah mendapatkan izin dari kedua orang tuanya. Gimbri merupakan
salah satu iblis yang tergolong jahat. Beberapa desa dia singgahi dan dia buat
kekacauan di desa itu. Desa terakhir yang dia singgahi adalah desa Remang. Di
desa ini Gimbri kembali membuat kekacauan, namun karena penduduk desa ini
termasuk orang-orang yang taat beragama. Karena kesaktian ilmu yang Gimbri
miliki tidak begitu besar, Gimbri kewalahan mengacau desa ini dan akhirnya ia
pergi.
Gimbri terus melaju
membelah hutan belantara melewati bukit dan pegunungan. Hingga dia menemukan
padang bunga yang indah. Gimbri terkejut melihat keindahan tempat itu, baru
pertama kali dia menemukan tempat yang begitu indah. Gimbri berjalan pelan tak
melepas pandang dari hamparan bunga yang segar. Di tengah indahnya bunga Gimbri
melihat sosok perempuan cantik jelita
bermain dengan kumbang. Menelisik tajam bagai mata elang Gimbri memperhatikan
perempuan itu. Semakin dekat semakin terkesima sosok iblis muda ini. Gimbri
mencoba untuk semakin dekat dan terus mendekat. Laraspati tidak mengetahui
kedatangan iblis itu.
“siapakah gerangan
yang cantik jelita?”
Gimbri sudah berdiri tepat di belakang
Laraspati. Laraspati menoleh dan terkejut melihat iblis itu yang secara
tiba-tiba sudah berada di dekatnya tanpa dia sadari. Laraspati berlari
menelusuri mekarnya bunga yang selalu dia semai dengan kecantikannya. Iblis itu
mengejar dengan kekutan yang dia miliki. Laraspati menghentikan langkah kakinya
karena kecepatan iblis itu yang sudah berada di hadapan Laraspati yang berlari.
“kamu siapa? Jangan
ganggu saya”
Laraspati melontarkan
pertanyaan dengan badan gemetar dan ketakutan karena iblis itu terlihat sangat
buruk. Laraspati juga baru pertama kali melihat sosok seperti yang berada tepat
di hadapannya itu.
“kamu jangan takut,
aku tidak akan melukaimu, aku hanya kebetulan saja melewati tempat ini”
iblis itu mencoba
menenangkan bidadari itu.
“engkau belum
menjawab pertanyaanku. Siapakah gerangan yang cantik jelita?”
“Laraspati”
bidadari itu
memperkenalkan dirinya sambil mencoba menghilangkan rasa takutnya.
“gerangan ini siapa?”
Laraspati berbalik tanya.
“Aku Gimbri Sharomon
seorang pangeran dari kerajaan iblis di bumi ini, baru pertama kali saya
melihat gadis secantik Laraspati, dari bangsa mana?”
Gimbri penasaran Laraspati berasal dari mana.
“Aku adalah bangsa
bidadari yang turun dari langit untuk bermedi mencari sebuah ketenangan.”
Mengetahui Laraspati
bukan berasal dari bangsa iblis gimbri terkejut. Ternyata Laraspati adalah
salah satu dari musuh bangsanya. Tapi karena kecantikan Laraspati, Gimbri tidak
bisa berkutik di hadapan musuh. Gimbri semakin terkesima atas pesona sang
bidadari. Beberapa percakapan mereka lakukan untuk saling mengetahui satu sama
lainnya. Dan akhirnya Laraspati menyadari bahwa Gimbri tidak akan melukainya.
“mengapa Laraspati
sendiri di tempat ini?”
Gimbri ingin tahu
lebih jauh tentang Laraspati.
“aku turun ke bumi dan menemukan tempat ini
semata hanya untuk mencari sebuah ketenangan, aku memiliki seorang kekasih yang
berada di langit namun dia sangat keras terhadapku. Dia terlalu mengekangku.
Semua harus berdasarkan kemauan dia, jika aku tidak patuh, caci dan maki aku
terima dan terkadang dia memukul saya”
Gimbri merasa kasihan
mendengar cerita Laraspati. Dan ini merupakan kali pertama seorang iblis member
rasa kasihan apalagi pada musuhnya karena tugas seorang iblis adalah untuk
mengacau bangsa lain selain bangsa iblis.
Waktu terus berlalu,
siang berganti malam Laraspati dan gimbri bersama di padang bunga itu. Mereka
bermain bersama, menyemai bunga dengan kegembiraan tanpa di sadari gimbri telah
melupakan tujuan utamanya untuk keluar dari goa mencari ilmu kesaktian. Siang
itu terlihat langit diselimuti awan hitam. Tiba-tiba gemuruh menggelegar dan
langit menangis membasahi bunga di tengah padang. Gimbri dan Laraspati berteduh
di bawah sebuah pohon rindang. Mereka menunggu hujan segera reda. Laraspati
merasakan dingin dari hujan yang turun dari langit.
“Gimbri badanku
terasa dingin”
ujar Laraspati. Dalam hati gimbri berkata
bahwa ini adalah awal untuk menarik perhatian Laraspati.
“Laras, dengan
kekuatan yang aku miliki aku bisa memberikanmu sebuah kehangatan yang akan
membuat badanmu tidak merasakan dingin seperti ini”
Laraspati tersenyum
dan berkata
“benarkah seperti
itu, jika memang benar coba kau buktikan kepadaku”
dengan segera Gimbri berdiri di hadapan
Laraspati dengan mulut komat kamit sambil membaca matera dan terlihat ranting
-ranting kayu yang berserakan di bawah pohon bergerak dan tertumpuk di
depannya. Gimbri terus membaca manteranya tiba-tiba tumpukan kayu itu menyala
membentuk sebuah api unggun. Laraspati dan gimbri duduk di hadapan api unggun
tersebut. Rasa dingin yang dirasakan Laraspati berangsur hilang dari api iblis
yang menyala di depannya. Hujan belum juga reda, mereka masih menunggu di
hadapan api unggun.
“ sudah
bertahun-tahun aku disni, dan sekian kali aku merasakan dingin ketika hujan
turun dari langit. Dan baru pertama kali aku merasakan hangat ketika hujan, dan
baru pertama kali aku berbicara di bawah pohon ini. Setelah hujan berhenti
nanti aku akan mengajakmu ke suatu tempat dimana kamu bisa menikmati sebuah
keindahan yang mungkin tak pernah kau lihat sebelumnya.”
Gimbri penasaran tempat seperti apa dan
keindahan yang ingin di tunjukkan.
Hujan perlahan mulai
reda, sinar matahari sudah mulai menampakkan dirinya menembus celah-celah awan
hitam dilangit yang secara perlahan pergi. Setelah hujan berhenti Laraspati
mengajak gimbri berjalan mendaki sebuah bukit yang tidak terlalu tinggi. Mereka
berdua sudah berdiri di atas bukit, terlihatlah lengkungan pelangi di atas
hijaunya hamparan pegunungan. Gimbri terkesima. Gimbri semakin lupa dengan
tujuan utamanya karena dia merasa nyaman di tempat itu bersama bidadari yang
cantik jelita. Tanpa mereka sadari sambil menikmati indanya pelangi tangan
mereka berdua tergenggam erat. Mereka berdua saling memandang dengan mata penuh
harapan. Tatapan mereka seakan tidak mau lepas meski sebuah keindahan yang luar
biasa terhampar di hadapan mereka. Mata yang berbinar terpancar dari wajah
Laraspati dan tiba-tiba tanpa diduga sedikitpun oleh Gimbri, Laraspati mendekap
memeluk tubuh Gimbri. Saat itu Gimbri sadar bahwa apa yang dia alami itu salah
sehingga membuat tubuh Gimbri gemetar di pelukan Laraspati. Dalam hati Gimbri
merasakan sebuah ketakutan. Seandainya apa yang dia alami saat itu diketahui
oleh bangsa iblis maupun bangsa bidadari akan terjadi sebuah perang yang sangat
besar. Di balik ketakutan itu Gimbri juga tidak mau menolak perasaannya bahwa
dia menyukai Laraspati.
“Gimbri, maukah kamu
menemaniku selamanya disini. Hidup bersamaku?”
mendengar permintaan
Laraspati Gimbri terkejut dan segera melepas pelukan dari Laraspati.
“Laras, apakah kamu
sadar dengan apa yang kamu katakan. Seandainya kita hidup bersama disini, dan
menjalin kasih, akan terjadi sebuah bencana besar diantara bangsa kita. Kita
ini berbeda. Aku dari bangsa iblis, sedangkan kamu dari bangsa bidadari yang
tinggal di langit. Kita berbeda dan tempat kitapun berbeda. Tapi aku tidak mau
pungkiri keadaan ini bahwa sesungguhnya aku juga punya rasa seperti apa yag kau
harapkan”
Mereka berdua terdiam
sejenak tanpa kata. Sedangkan mata mereka sudah lepas. Hanya suara burung yang
melintas terdengar meramaikan suasana sepi di antara mulut kaku merekka berdua.
Beberapa saat waktu mereka lalui dengan diam. Pelangipun sudah tak nampak lagi
dilangit. Akhirnya mereka berdua menemukan kesepakatan. Mereka tidak mau
mencampakan perasaan yang mereka rasakan. Dan akhirnya mereka menjalin kasih
yang disaksikan oleh bunga yang mekar.
Dari langit Gagahwana
mulai mencemaskan Laraspati. Sudah sekian tahun dia turun ke bumi tanpa ada
kabar kapan dia akan kembali. Gagahwana memutuskan untuk turun ke bumi mencari
kekasihnya itu. Berhari-hari Gagahwana terbang dari timur ke barat mencari Laraspati,
tapi belum ada tanda-tanda keberadaan kekasihnya itu. Gagahwana terus terbang
tanpa hentinya. Terciumlah wangi dari bunga yang merekah membuat Gagahwana
merasa kalau disana Laraspati berada. Dia terus terbang mencari dimana sumber
wangi tersebut. Dan akhirnya dia melihat hamparan padang yang sangat luas di
tumbuhi oleh bunga-bunga beraneka warna yang harum semerbak. Tiba-tiba
Gagahwana murka ketika melihat Laraspati sedang duduk dengan mesra di antara
bunga-bunga itu. Gagahwana terbang dan mendarat tepat dihadapan mereka berdua.
Gimbri dan Laraspati terkejut dan beranjak bangun dari tempat duduknya.
“Laraspati…!
Apa-apaan ini?”
Laraspati tiba-tiba
menangis sambil ketakutan melihat kedatangan Gagahwana. Kemudian berlari ke arah
gagahwana dan memeluk kakinya
“kakang Gagahwana
maafkan dinda”.
Saat itu api
kemarahan membara di dalam diri Gagahwana melihat kekasihnya bercinta dengan
iblis. Tanpa tanya siapa Gagahwana melepas pelukan Laraspati di kakinya.
Laraspati terpelanting jatuh. Melihat tindakan Gagahwana, Gimbri melawan
Gagahwana dan perkelahianpun tidak bisa di elakkan lagi.
Dua hari dua malam
Gimbri dan Gagahwana bertempur. Berbagai jurus andalan mereka keluarkan. Tidak
ada yang mau mengalah. Mereka sama-sama tangguh. Sedangkan Laraspati hanya
menangis berurai air mata menyaksikan pertempuran itu. Pada puncak pertarungan
Gagahwana dengan Gimbri, kekuatan terbesar mereka keluarkan. Mereka saling
menyerang dan akhirnya Gagahwana terkena serangan Gimbri yang membuat Gagahwana
terbakar oleh api iblis Gagahwana pun sirna. Gimbri tertawa atas kekalahan
Gagahwana tanpa sadar sebilah keris beracun sudah menancap di perutnya.
Beberapa saat Gimbri menyadari dia juga terkena serangan terakhir Gagahwana.
Perlahan tubuh Gimbri melepuh terbakar racun keris itu. Tidak ada yang menang
dalam pertempuran sengit itu. Laraspati terus menangis tanpa bisa berbuat
apa-apa, di samping itu Gimbri dan Gagahwana sudah tewas. Langit menjadi gelap,
gemuruh menggelegar dengan keras, terlihat langit seperti terbelah oleh
sambaran petir. Laraspati terus menangis di tengah padang bunga itu meski
dingin hujan menerpa tubuhnya. Laraspati berdiri menegadah kea rah langit dan
berteriak beriringan dengan suara petir yang terus menggelegar.
“Akhhhh……………Tuhan,
mengapa kau cipatakan aku menjadi bencana? Apakah seperti ini akhir dari
ketenanganku di bumi selama ini. Ambillah aku kehadapanmu. Aku tidak mau
menjadi bencana lagi di tempat ini”
Laraspati berjalan
menuju badan Gimbri yang sudah melapuk oleh ganasnya racun dari keris milik
Gagahwana. Laraspati mengambil keris itu dan dia tancapkan di tubuhnya.
Tiba-tiba hujan berhenti seketika, tidak ada mendung lagi bahkan petirpun tak
terdengar. Suasana seketika berubah menjadi cerah. Sinar matahari memancar ke
tubuh Laraspati dan tubuh Laraspati berubah menjadi jutaan kupu- kupu beraneka
warna dan terbang menuju bunga-bunga yang terhampar di padang yang luas itu.
Kini padang bunga itu bernama Padang Bunga Bidadari.
SELESAI