Bercerita Dengan
Malam
Hujan kembali menyapaku dalam malam
Terdiam lagi aku tanpa kata yang akan membuat aku lebih
tenang
Binatang malampun enggan mau bernyanyi meski irama hujan
terus mengalun
Kini aku lemah dengan rasa yang menghantui fikiranku
Takut
Bingung
Bimbang
Itulah yang aku rasakan ketika hujan dan dinginnya angin
malam menghampiri
Aku memang berada di sampingmu
Tetapi keberadaanku malah membuat aku jadi layu dalam
seribu bahasa cinta
Gelap
Gelap fikiranku saat aku ingin merasakan rasa hangat
duniamu
Meski mentari esok pagi akan cerah dan memancarkan
panasnya
DEWIKU
Jangan kau berfikir aku seperti yang kau lihat
Bisa saja pandanganmu menipu hatimu
Karna ku tak seperti yang engkau lihat
Hitam mungkin dimatamu tentangku
Tapi cobalah lihat putih disisi gelapku
Aku memang seperti ini dan akan tetap seperti ini
Seperti yang kau lihat dengan mata indahmu
Kini aku lemah dihadapmu
Ketika kulihat halus lembut wajahmu
Apa yang membuat hati ini menjadi bimbang
Bimbang ketika ingin terlelap
Kenapa raga ini gemetar
Saat engkau menyapaku dengan tutur lembutmu
Kau begitu indah dimataku
Bagaikan dewi yg kuinginkan
Aku memang mencintaimu
Tapi cintaku mungkin hanya akan bersandar
Tanpa menjalaninya
bersamamu.
Aku tetap disini untukmu…
Love you….
Harapan Terbesar
Aku
sadar dengan semua yang terjadi denganku
Aku tahu
sekian lama aku sendiri
Hati
ini sudah lama tak ada yang mrmilikinya
Karna kubelum
sanggup melupakan dia begitu cepat
Kini kau
datang dengan sebuah senyuman
Yang
mampu membuatku melupakan dirinya
Kau
mampu merenggut semuanya
Hati,
jiwa, senyuman dan fikiranku
Akupun
mencintaimu dengan sebuah ketulusan
Dan itu
adalah suatu hal yang istimewa dalam hidupku
Aku tak
mau kali ini kau mengecewakan hatiku
Karna
memilikimu adalah harapan terbesar di dalam hidupku.
Bila
harapan besar ini kudapat
Engkau
akan jadi harta terbesar yang terindah dihatiku
Semoga
ini akan selamanya indah
Bersama
cinta dan senyumanmu
Bulan…
Bintang…
Katakana
padanya aku mencintainya
Katakana
padanya aku sangat merindukannya
Sampaikan
padanya aku menginginkannya.
Hujan sore
Aku terbaring dipusara hariku
Kala gemuruh dilangit mulai berontak
Kubuka jendela kamarku
Ketika matahari tak kulihat
Aku terdiam dalam ucapanku
Ketika gerimis miris mengikis tanah kering
Jiwaku melanhkah dalam diam ragaku
Dan hatiku berlari mengetuk rumahmu
Tak ada yang membuka
Tak ada yang menyapa
Karna kau tak ada dirumahmu
Entah dimana dirimu
Namun aku terdiam didepan rumahmu
Bersama dinginnya hujan sore ini
Mengikis hangat di sekucur tubuhku
Namun engkaupun tak kunjung jua
HUJAN
Disini aku terdiam tanpa ada sebuah kata yang terucap
Dingin mala mini aku lalui tanpa ada sebuah senyuman
manis yang mungkin bisa jadi cerita
Kadang aku berfikir tentang sepi malam ini
Bersama irama tetesan air hujan yang jatuh tergenang di
atas tanah basah
Bersama irama binatang malam yang yang menyapa dalam
hening malam
Ingin kuterawang mimpi dalam bayangan saat mata tak bisa
kupejam
Ingin kumenari bersama alunan melodi angin yang bertiup
pelan di kulitku
Jalanku memang sudah seperti ini
Kadang begitu lurus, dan kadang begitu menyesatkan diriku
sendiri
Ingin kumelangkah bersama cinta yang seperti bintang
Agar slalu ada penerang ketika kulewati jalan gelap dalam
hidupku
Aku memang manusia yang rapuh
Namun hatiku tak serapuh yang bisa begitu saja di genggam
dan hancur
Karna aku juga adalah manusia yang bisa berfikir saat aku
teraniaya pahitnya sebuah cinta
Kapan aku harus bisa membawa pelangi diatas alas
kehangatan
Yang akan membawaku dan menuntunku bisa terbang di langit
dengan khayalan
Kini hujan malam ini yang jadi saksi mati dalam malamku
Ketika kugoreskan kenangan hati yang tiada henti
bergejolak
Dan hujan malam ini yang menghentikan sejenak langkahku
untuk sepercik harapan tak pasti
Akupun terdiam dan membisu
Menatap hujan mala mini yang menghalangiku untuk
mengayunkah langkah demi langkahku.
Hujan andai kau bisa bicara denganku
Andai kau bisa dengar apa yang ada dihatiku
Tolong, katakana padaku
Apa maumu?
“INILAH JAWABAN ATAS
DIAMKU”
Buat Orang Yang Merasakannya
Aku tahu raga ini begitu lelah.
Aku tahu raga ini terasa akan rapuh.
Namun kenapa engkau bangunkan aku disaat aku terlelap
dalam mimpiku.
Tak pernah kubayangkan apa yang akan terjadi mala mini.
Kau mengirimkan aku sebuh pesan pendek, pesan pendek yang
membuatku tak bisa memejamkan mata ini untuk menjemput lagi mimpi indahku.
Hanya beberapa kata yang terucap dalam pesan pendek itu,
namun seketika membuatku tak berdaya.
Masih kau ingat pertama kita bertemu dahulu.
Aku merasa engkau adalah seorang dewi yang datang untuk
mengisi kesepian hatiku saat ku menatap mata di wajahmu dan menjabat lembut
tanganmu.
Engkau seolah-olah mencairkan beku darahku yang mengalir
hangat di nadiku.
Tapi aku terdiam dengan apa yang aku rasakan seolah tak
ingin kau tahu aku menginginkanmu.
Waktu itu aku adalah sebuah batu krikil yang tersapu
jejak langkahmu bersama orang lain.
Terdiam dan membisu melihat senyuman manismu meski kutahu
hatimu teraniaya cinta.
Akupun masih bertahan dengan apa yang aku rasakan padamu.
Mengharapkan cintamu tanpa kau sadari sedikitpun.
Dan kini engkau tahu apa rasaku sebenarnya untukmu.
Inilah akhir dari harapanku selama aku terdiam, dari
pesan pendek yang kau ucapkan.
“maaf kak, tapi mungkin saya menyerah.”
Ini adalah kata manismu untuk menyampaikan apa yang ada
dihatimu.
Malam ini kugoreskan tinta hitam di atas putih ini,karna
aku tidak tahu dengan siapa aku harus menyampaikan risalah hatiku akibat cinta
yang memang penuh dengan resiko.
Buat engkau yang ada disana terima kasih ya, atas semua
pertanyaan bisu yang membebaniku selama ini. Dan inilah kata terakhirku yang
mungkin saja masih kau ingat.
“Engkau yang telah mengetuk pintu hatiku. Kalau engkau
ingin masuk, masuklah dan kunci dengan rapat. Jagalah hati ini dan jangan
sampai orang lain masuk meski ribuan cinta yang mengetuknya.
Bila engkau tak mau masuk di hati ini, tolong, tutup dan
kuncilah kembali pintu hati ini, dan entah sampai kapan pintu hati ini akan
terbuka kembali. Pintu hati ini akan menunggu orang yang mau membukanya dan
memilikinya, entah kamu?
Ataupun orang lain.
Jalan Yang Belum
Terlampaui
Sebuah rasa saat langit begitu cerah
Terbayang senyum manis ketika purnama
Menghalangi langkah menuju kesana
Melihat embun pagi berguguran
Angin berhembus jauh disana
Menerawang mimpi ketika terindukan
Jalan berbatu tak semulus hati
Menyanyikan sebuah lagu seorang diri
Jalan panjang belum selesai terlalui
Menyesatkan raga di persimpangan
Mata memudar tak tahu arah
Ketika rapuh makin Merapuh.
Kesepian
Dingin malam terus menghampiri peraduanmu saat bintang
enggan berkilauan.
Terdengar alunan melodi tua ketika raga rapuh dalam
bayangan sebuah cinta.
Kumenari di atas senyuman yang terukir dalam angan
Inikah jawaban atas kerinduan yang pernah kutemukan
Bagai merpati tak bisa terbang terkapar di dasar hati
Sayapnya pupus terurai dan tercampakan
Inikah akhir semua perjalanan hati yang terluka
Berlalu tanpa sebuah arti yang akan menjadi warna hidup
ini
Kau yang disana , dengan sejuta senyuman
Sedang kudisini tanpa kata
Hanya dirimulah yang terbayang
Keika
hampa semakin kurasa
Dalam
penantian sebuah cinta yang tak mungkin kudapat
Oh…bulan
dan bintang
Walau
kumembisu disini tanpa sebuah kata yang akan jadi cerita
Didalam
anganku masih ada namamu yang akan membawa arti
Yang akan
menjadi penyejuk meski akan tetap membawa luka
Karna
dirimulah aku seperti ini.
KETIKA HATI BERGELUT DENGAN CINTA
Angin ini yang ingin kurasakan dalam sepi menjelma
Ketika aku tak sadar akan jiwaku yang sedang dilanda resah dan gelisah
Ingin kubawa mimpiku dalam lelah yang tak tau kapan harus berakhir
Hingga nanti mentari terbenam digaris ujung pantai selatan
Kini aku hanya bergelut dengan cinta
Menahan perih hati ketika engkau tak lagi disisiku
Tapi engkau akan selalu hidup dan bersemayam dihatiku.
SAAT KUMULAI GELISAH DENGAN SEPIKU
sebenarnya aku tlah lelah dengan semua ini
membayangkan sesuatu yang tak mesti aku jalani
merangkai mimpi dengan kepalsuan yang tak perlu.
ingin kuberhenti melawan arus
ketika kereta tak lagi berjalan
ingin kugenggam pelangi saat rintihan hujan tak lagi kudapat
ingin kumenari dengan cahaya
ingin kubernyanyi dengan alam
ketika kurapuh dalam angan
dimana aku mesti berpijak
dimana aku mesti berjalan
saat aku kehilangan arah
kini damaiku disini tanpa ada kisah disisiku
saat embun pagi mulai hangat berguguran terhempas keringnya dunia
dimana mesti kucari
seharum cinta yang akan membawa warna
saat jemariku tak lagi bisa mengukir cerita
disini kumasih sendiri
bergelut dengan waktu mencari sebuah cinta
saat fajar mulai terlelap.
Sajak Pohon Tua
menulis sajak cinta dipohon tua
terukir dengan baik dua buah nama
yang dihiasi kingkaran hati tanda
keindahan
pohon tua selalu tegar
meskipun usia makin menjelang
kini pohon tua ditinggalkan
namun dua buah nama masih tetap indah
meski lumut lembut menyelimuti
sekian lama tertinggalkan
kini engkau disapa kembali
pohon tua
pengorbananmu begitu berharga
menghabiskan sisa hidupmu
demi menjaga dua buah nama yang sudah
berpisah
TANGIS DAN SENYUMAN
Masihkah engkau rasakan hangat pelukku
Masihkah engkau ingat tangismu di pundakku
Aku masih mengingat dan merasakannya
Tapi mungkin bagimu, itu masa lalu yang sia-sia
Cinta itu memang buta
Meski janji yang terucap begitu indah
Engkau melangkah jauh dengan pesonamu
Bermain cinta dengan cucu sang adam
Seperti
putrid dan pangeran di negri dongeng
Dalam
kedua bola mataku
Aku
seperti sekuntum mawar tua
Dengan
mahkota embun pagi
yang penuh
dengan sebuah pengharapan
Harapan
yang sia-sia, ketika satu persatu kelopakku
jatuh
berguguran disapa badai cintamu
Di
persinggahan ini aku terdiam dan membisu
menunggu
sebuah cinta
Seperti
seekor laba-laba yang menunggu jaring cintanya
menjerat
sebuah hati yang indah
Aku
tahu engkau bahagia dengan apa yang
engkau jalani
Meskipun
aku menangis dalam hatiku,
namun
senyumanku akan selalu menyapamu
Memeluk Sang
Rembulan
Terdiam bukan berarti tak mampu atau tak bisa
bicara. Menanti cahaya menopang kehidupan yang mungkin sudah tak ada artinya.
Bebas menerawang menatap lurus kedepan,walaupun
kadang berliku terlampaui. Menghembuskan nafas panjang yang semakin
sesak dan melemah, namun tak akan membuat alam membisu mencari penghuni yang
membutuhkan aroma dan kesejukan. Terkadang dunia yang kekeringan dan mulai
retak membuka suara mengangkat tangan yang tinggi mengeluh akan nasibnya brsama
cahaya bintang di langit. Terukir melodi cinta kala bayangan semu tak lagi
terasa antara lambaian tangan perpisahan.
Ingin kuukir cerita di telapak bumi antara
resah gelisah mentari yang terselimuti
gelap awan di pagi sore senja. Melodi
kenangan yang pernah tercipta antara aku engkau dan dirinya kini menjadi
sejarah dalam perjalananku untuk mencari satu kehidupan. Memang berat
terasa ketika aku sendiri tanpa ada
kawan, tanpa ada cinta yang menemani langkahku berjalan menyusuri dunia antara
daun-daun kering dan ranting-ranting patah terurai. Kadang ingin sekali aku
memeluk sang rembulan kala kuterlelap. Ingin sekali kumemeluk bintang saat
malam kian pergi.
Kini disini aku merasa hampa di antara ribuan
hembusan nafas yang penuh dengan dosa yang tak jelas. Namun ketegaran slalu
menemani. Kuyakin akan ada sebuah cahaya penerang yang akan menerangi hampa dan
gelap hati ini.
YANG AKU PIKIRKAN
Meratap sunyi yang menyapa
Merangkai mimpi dalam sayup damai
Bergerimis hujan di padang ilalang
Mata terpejam saat malam
Aku menyapamu dibawah purnama
Ketika serigala mengaung di hutan
Aku bercerita pada lentik matamu
Ketika kubelai rambut panjangmu
Jangan kau tertawa
Jangan kau mengelak
Bila sayap patah sang bidadari ada digenggamanku
Cinta
Bagaikan setetes embun pagi yang berguguran
Indah bila disapa mentari
Namun musnah disapa bumi
SEBENARNYA
AKU JUGA SAMA SEPERTI yg KAU RASA
Masih kau ingat
saat pertama kita bertemu
Kau sapa aku
dengan manjamu
Entah apa yang kau
lihat dariku
Tapi aku tak peduli
dengan itu semua
Aku memang ingin
bisa mengenalmu
Tapi ku tak mau ku
jadi beban dalam hidupmu
Aku masih sendiri
sampai saat ini
Tanpa indahnya
sebuah cinta
Aku bingung dengan
kehidupanku
Aku bingung dengan
perjalan pahit cintaku
Kaupun berlalu dalam
hari-hariku
Dan kini kaupun
datang dengan cintamu
Tak mau dan tak
bisa aku pungkiri
Sebenarnya aku
juga mencintaimu
Tapi kenapa kau
hadirkan cintamu untukku dan
Cintamu untuk
dirinya
Knapa disaat aku
mau membuka hatiku untukmu
Kau ada yang
memiliki,
meski ku tahu kau
mencintaiku dewi.
Kini aku hanya
bisa melihatmu tersenyum dengannya
Walaupun dihatimu
kau mengharapkanku
Tapi apa yang bisa
kulakukan
Engkau bahagia
akupun akan merasakannya
Walaupun aku tak
rela engkau bersamanya.
KERIKIL DIBAWAH TELAPAK KAKI
Aku tak pernah tau dan tak pernah sadari dengan apa
yang pernah terjdi dengan diriku. Walaupun aku selalu melangkah kedepan dan
terkadang membalikkan raga ini kebelakang namun tetap satu tujuan yaitu meraih
cita-cita dan cinta. Goresan ini adalah sebagian dari saksi hidupku, melangkah
menjejaki langkah demi langkahdalam naskah Tuhan yang tak tahu akhirnya menjadi
misteri dalam pikiranku.Aku bertanya pada Tuhan dalam sujud malamku,kenapa
skenario kehidupan yang kumainkan begitu sulit. Mengapa tidak semudah
skenario yang aku jalani ketika aku
bermain teater bersama kawan-kawanku. Kadang air mata ini tak mampu terbendung
saat merasakan kehampaan hati yang menyelimuti resah dan risauku ketika satu
cinta yang aku miliki tiba-tiba pergi tanpa penjelasan dari
pertanyaan-pertanyaan dan tetap menjadi pertanyaan hati yang terluka. Di satu
kehidupan kumerasakan sebuah senyum
manis dan tawa menyelimuti bibir mungil nan indah, yang dahulu pernah kurasakan
kecupan hangat sebuah cinta yang menghanyutkan damaiku pada sebuah harapan
besar yang terbersit dalam angan-angan hati cucu sang Adam, yaitu menjadikan
titisan sang hawa dalam sebuah keluarga bahagia yang sakinah, mawadah dan
warahmah. Harapan itu selalu menghantui dan mengganggu pikiranku dikala purnama
sang penerang malam menyapaku ketika kududuk terdiam bertanya pada angin malam,
bertanya pada merdunya binatang kecil yang mengejekku ketika kuteteskan air
mata kala kumerintih merindukan sosok gadis yang sedang bahagia disana.
Sejujurnya aku malu pada diriku sendiri, pada batu yang membisu, pada rumput
yang menari dan pada burung-burung yang berkicau dipagi hari.
Rindu hanya kerinduan yang aku rasakan saat hati ini
menyebut dan memanggil namamu. Rasa ingin berjumpa yang begitu besar,namun tak
bias kudapatkan. Ternyata Tuhan belum siap mempertemukan aku dengannya, meski dalam
do’a kumemohon agar aku bisa hidup bersamanya. Dan kini Tuhan masih terdiam dengan
permintaan tulus yang datang dari gejolak hati yang gundah gulana tersakiti
cinta. Teringat akan masa laluku bersamanya. Canda senyum dan tawa mengiringi
saat kugenggam tangannya. Berdua
berjalan melangkah diikuti bayangan bahagia di atas air kolam cinta. Masih
kurasakan hangat peluknya saat duduk berdampingan kala ia bersandar dipundakku
dengan belaian lembut tanganku pada helai rambut panjangnya. Ingin lagi
kurasakan masa-masa indah itu bersamanya. Tapi, sekarang aku bagaikan kerikil
dibawah telapak kaki yang terinjak-injak senyuman manisnya bersama orang lain
yang membuat semuanya berubah.
Hari demi hari dan waktu berlalu tanpanya. Aku
meraskan kesepian yang begitu mendalam. Hingga pada suatu hari hadirlah sosok
seorang gadis di hatiku, namun terasa biasa saja karna hati ini masih merasakan
luka. Seiring perjalananku sendiri mengobati luka, sedikit warna tersirat pada
gadis ini. Ia mampu membuatku tersenyum dan tertawa,yang kadang mampu membuatku
lebih tenang dan melupakan baying-bayang yang menyiksa dihati.
Namun warna itupun tak lama kurasakan indahnya,
perlahan melepuh tersapu
embun pagi kerinduan yang terlahir saat kupejamkan mata dalam mimpi. Meski aku
bias tersenyum dan tertawa tapi belum mampu mengobati hati yang masih penuh
dengan luka yang tak pernah mongering. Begitu banyak gadis yang mengetuk hati
ini , tak satupun yang bisa mengganti
dirinya. Begitu tulus dan sucinya hati ini mencintai dirinya, namun perasaan
ini sudah kehilangan daya dan upaya untuk bisa berjumpa lagi bersamanya. Hingga
pada suatu saat aku coba bertahan untuk
bisa melupakannya dan membiarkan lukaku tak terurus. Namun perihnya tak mau
menghilang, hingga air mata ini bergeliimang tak berdaya ingin bertemu.
Ternyata Tuhan menjawab do’aku , walaupun masih ada keraguan dan ketakutan di
benakku. Apakah dia masih mengenalku atau tidak, keraguan it uterus menghantui
pikiranku. Tapi aku tak mau lemah dan menyerah dengan itu semua. Aku hanya
manusia biasa yang berusaha untuk kuat. Tak ada daya yang mungkin bisa aku
lakukan,hanya kata dan do’a yang terucap di bibir yang kaku ini. Rasa ingin
bersamanya begitu besar. Terkadang aku
malu, aku malu pada raut muka sedih sang purnama yang menatapku di balik awan.
***
Dan kini akupun masih sendiri mengobati perihku.
Perih yang merusak syarafku untuk tersenyum, perih yang merubah kehidupanku
hingga aku lupa akan diriku sendiri. Bintang malam masih bersinar di langit
gelap. Walaupun bulan masih tetap malu menyapaku dalam haru pilluku. Dan
binatang malam masih bernyayi riang mengejekku karena sebuah kegagalan. Meski segala rasa telah aku
tumpahkan begitu saja di hadapannya. Tapi kenapa,,,??? Kenapa ia tak mau merasa
dan menganggapnya ada. Mungkin dimatanya aku hanyalah duri-duri tajam yang
mungkin saja suatu saat bisa melukainya. Tapi sungguh aku adalah insan yang
sangat mencintainya dengan kesungguhan dan ketulusan yang sebenarnya sangat
indah. mungkin ini akan tetap menjadi garis hidup yang tak akan bisa sempurna
untukku. Karna jalan bereliku yang harus kutempuh masih begitu panjang yang tak
tahu aku dimana ujung yang masih kucari tempat kuberhenti dan bersandar.
Meskipun begitu warna kehidupan yang aku rasa tak pernah redup, walau begitu
besar ujian yang terus menghampiriku disaat aku ingin dekat denganmu.
Begitu kacau pikiranku,kepala ini seakan mau meledak
seperti bom yang berpacu dengan waktu, terpompa aliran darah yang mengalir
menelusuri urat-urat di dalam tubuh. Seperti jiwa ini juga makin kacau saat
bayang-bayang namamu mulai teringat. Ingin sekali kulupakan masa lalu
bersamamu, walaupun masa-masa itu indah. Seperti jingga di langit senja yang
pelan-pelan semakin menghilang oleg sang malam. Seperti itulah yang aku rasakn
padamu, meskipun sangat indah namun teta terasa hampa. Dan ini tak akan pernah
aku pungkiribila keadaan ini terus aku alami. Aku tahu dan sadar tuhan lebih
senang melihatku seperti ini, karna ini ujian dari-Nya.
Mentari pagi bersinar begitu indah, menghangatkan
embun pagi yang berguguran jatuh terhempas terhisap dunia. Akupun terus
melangkahkan kakiku dalam sepiku. Walau cinta di hatinya mungkin tak bisa
kumiliki lagi. Walau janji yang pernah terucap olehnya mungkin juga tak akan
bisa ditepati. Aku akan tetap menjadi diriku sendiri yang terhanyut menjadi
korban sebuah cinta. Dan kini saatnya aku harus berfikir semua yang aku jalani
ini ternyata salah. Masa depan menantiku. Tapi apakah aku harus menyerah
menghadapimu. Mungkin iya,,,aku harus mengalah
untuk kebahagiaanmu. Aku mengalah dan menyerah bukan
karna aku lemah, karna mengalah itu merupakan suatu kekuatan. Kekuatan untuk
bangkit dari kegagalan cinta yang akan menjadi pelajaran untuk sebuah cinta
yang abadi.
Akupun harus pergi darinya seiring dengan
berakhirnya goresan-goresan ini yang tercipta dari perasaan tulus kala aku
memikirkannya. Selamat tinggal cinta, selamat tinggal adinda. Sudah waktunya
aku harus melanjutkan perjalananku untuk mencari cinta sejati yang lainnya.
Walaupun tanpa tujuan yang pasti kemana aku akan melangkah. Namun terus
kuayunkan langkahh kakiku seiring hembusan angin di balik daun-daun kering dan
ranting-ranting patah terurai. Meskipun terkadang aku haarus berhenti sejenak
melepaqs penak dahaga yang aku rasakan, sampai nanti, sampai kuayunkan lagi
langkah kakiku untuk mencari sosok cinta seperti yang dia miliki. Terima kasih
engkau telah mengajarkanku apa itu kesetiaan yang sesungguhnya,,Adinda.
***
Kegalauan Hati
Waktu itu jam 6 sore, matahari
mulai perlahan menghampiri garis pantai barat.
Aku duduk terdiam menerawang
waktu yang berjalan antara bayangan semu menghampiri keresahan hati yang
membuat jiwa semakin hampa.
Ingin kuberjalan melintasi aroma
angin yang menusuk hembusan keringat yang akan menjadikan sebuah kesejukan.
Deburan ombak mulai perlahan
berbisik pada pasir dan karang yang akan menjadi penopang bumi yang terhempas
kerasnya kehidupan.
Ingin kuberlari dalam lelahku
yang seakan rapuh dalam nyanyian angin.
Disini aku mengukir sebuah cerita
dalam damai yang mungkin saja bisa membuatku tersenyum dalam menggapai mimpi.
Dalam
Sebuah Pencarian
Perjalanan mencari sebuah cinta sejati
Walau tanpa tujuan yang pasti
Terus kuayunkan langkah kakiku
Seiring dengan hembusan angin
Kadang aku lelah
Kadang aku lemah
Kadang aku ragu dan
Kadang aku risau
Namun demi sebuah cinta yang akan menjadi penopang
hidupku nanti, aku tak akan gentar
Aku pasti mampu bertahan
Menambatkan sebuah cinta di pelabuhan hati
Meski ombak mengadang
Meski badai menyapa
Aku pasti mampu
Kini aku terdiam sejenak
Melepas penak dahaga yang kurasakan
Sampai nanti
Sampai kuayunkan lagi langkah kakiku
Untuk mencari sosok cinta
Seperti yang aku dambakan
Gelisah Malamku
Menyambut
mentari dalam kebimbangan
Menelaah waktu
dalam pesona
Menanti cahaya
dalam kegelapan
Merangkul
impian di dalam impian
Bejalan
menyusuri arah
Berpacu
mengepakkan tangan
Melambai hati
yang goyah
Meratap dunia
dalam nista
Angin malam
yang menyapa
Bersama
rembulan dibalik awan
Melihat
bintang di tanah lapang
Teringat wajah
dirimu seorang
Hanya binatang
malam yang menyapa
Ketika raga
terembun malam
Ingin kudekap
langkah merona
Saat mata
ingin terlelap
Cerita Malamku
Terdiam dalam
keramaian hembusan nafas
Dibawah langit
malam aku berpacu dengan embun
Berbisik manja
pada riuh tawa
Saat dinginnya
raga berselimut manja
Ingin
kutawarkan senyuman manis
Namun begitu
berat untuk disampaikan
Ketika dinginnya
malam semakin menyapa
Langit malam
yang gelap
Berselimutkan
awan hitam
Tanpa kedip
bintang yang menghiasi
Ingin sekali
aku berlaridan berteriak
Ingin sekali
aku berontak
Namun daya dan
upayaku yang tak ada
Jangan Katakan Cinta
Aku memang
sangat mencintaimu.
Harapan
terbesarku hanya untukmu
Kenangan yang
terukir emang indah dan takkan terlupakan seumur hidupku.
Engkau yang
memberiku cinta
Engkau yang
memberiku sayang dan
Engkau yang
memberiku kehangatan
Aku tak tahu
sejauh mana hubungan ini akan berjalan
Mengingat di
satu sisi engkau adalah miliknya
Mungkin
dimatamu aku bukanlah apa-apa untukmu
Begitupun yang
kurasa, aku bukanlah orang yang pantas untukmu
Aku sadar
siapa diriku
Aku hanyalah
lelaki dekil yang hina haus akan kehangatan
Tidak aku
salahkan bila kau menilaiku seperti itu
Karena
kenyataannya memanglah seperti itu.
Tapi tidak
dengan cintaku.
Ketulusan
cintaku untukmu mungkin tak akan pernah kau mengerti
Dan
keinginanku untuk memilikimu mungkin tak pernah kau hargai
Tapi ini
adalah kenyataan pahit yang memang harus aku jalani.
Dan kini aku
hanyalah insan yang mengharapkan satu hati, satu cinta, satu kerinduan untuk
satu tujuan yaitu bisa hidup bersamamu.
Dan malam ini
aku ukir kalimat manja untuk menenangkan air mataku yang seakan bergejolak
ingin tumpah di muka bumi
Bersama
bayanganmu yang menghampiri dan berlalu lalang di benakku
Maaf ...
Maaf adalah
satu kata yang akan menjadi harapan untukku agar engkau bisa tersenyum.
Tertawa dalam
menjalani kehidupan cinta bersama dirinya
Aku memang
resah
Aku memang
gelisah
Dan sejujurnya
aku tak rela engkau bersamanya
Karna aku
sangat mencintaimu
Aku mohon...
Jangan kau
tangisi aku seperti dulu
Ketika aku marah
padamu
Ketika aku
jauh darimu
Meskipun
kerinduan dan keinginanku utukk bersamamu begitu besar
Tapi apalah
daya yang bisa aku lakukan
Engkau masih
bersama dirinya yang mungkin tak akan kau lepaskan
Hanya satu
yang kuharap hanya ada aku dan kamu
Biarkanlah
berlalu,memang harus ada yang dikorbankan dan tersakiti
Biarlah itu
diriku,meskipun aku akan tetap mencintaimu dan tak akan pernah melupakan
kenagan indah bersamamu.
Berikanlah
cintamu untuknya dan bahagiakanlah dirinya, dan
Jangan kau
katakan cinta padaku bila kata itu masih kau ucapkan untuknya.
Tidak
ada yang salah di dirimu ketika perasaanmu mengatakan bahwa aku adalah
seseorang yang engkau cintai. Sahabatku, tidak pernah salah bagi siapapun untuk
mencintai seseorang yang layak untuk dicintai. Tidak juga salah bagimu, ketika
akhirnya mencintaiku.
Hari ini engkau menuliskan pesan pendek untukku. Kamu bilang kamu tulus
mencintaiku. Sungguh, aku tidak tahu apakah benar ketulusan itu sebagaimana
yang kau ucapkan, atau sesungguhnya pesan itu hanyalah sebaris kalimat penuh
pengharapan agar aku mau menerima dirimu sebagai pendampingku. Sahabatku, tidak
sedikitpun aku ingin memprotesmu atau meragukan tulisan pendek itu. Tiada guna
bagiku hidup dengan keraguan atau kecurigaan.
Sahabatku, tiada henti ku ucap terimakasih karena engkau telah menyayangiku,
meski engkau belum sepenuhnya mengerti baik burukku. Melihat sikapmu, aku jadi
menyimpulkan bahwa cinta ternyata juga penuh resiko.
Sahabatku, semoga engkau tetap bisa menjadi sahabatku. Semoga esok, ketulusan
cinta yang kau tuliskan terwujud dalam sebuah kebesaran hati untuk menerima
kenyataan hidup bahwasannya seluruh perasaan dan perhatianku untuk seseorang
yang telah lama kucintai. Aku pikir kamu sudah lebih dari tahu, pada siapa
sesungguhnya seluruh perasaanku bermuara, mengingat awalnya kedekatan kita
kupikir hanya sebatas persahabatan biasa dari dua insan beda jenis saja.
Sahabatku, andai aku bukanlah seorang yang tidak menghargai keberadaanmu,
mungkin aku sudah memilih untuk marah kepadamu, sebab telah mengkhianati
kepercayaanku yang menganggapmu sebagai seorang sahabat. Itu sama seperti kamu
memanfaatkan seluruh informasi pribadi seputar diriku untuk meraih simpati dan
perasaanku. Bukankah cinta yang tulus harusnya menyadarkan dirimu bahwa seluruh
cinta tulusku sudah kucurahkan pada ia yang kucintai sekian tahun terakhir ini?
Sahabatku, tanpa bermaksud mengguruimu, mungkin sedikit pengalaman hidupku bisa
sedikit kau ambil pelajaran tentang seperti apa cinta tulus menurut
pandanganku. Seperti kamu tahu, tidak sedikitpun aku pernah memaksakan perasaan
sayangku kepadanya yang kucintai sepenuh hati. Hanya kubiarkan ia tahu dan
terus merasakan bahwa aku memang tulus mencintai dan menyayanginya, tidak
pernah aku memaksanya untuk melupakan atau berhenti mencari yang lain. Dan,
untuk kau tahu, ia yang kucintai itu juga sungguh-sungguh mengerti tentang
seperti apakah ketulusan itu sendiri.