Selasa, 11 Juni 2013

Kaca Mata Tuan Jiwaku



Kaca Mata Tuan Jiwaku
                                      : Gusmiadi

Terbaring raga di tikar peraduan
Merindu cinta berbinar di negeri saman
Di balik jendela mata memandang jauh membentang
Takut terhempas bila mesti aku terbang


Aku hanya bisa memandang
Meski raga kaku terlentang

Ribuan burung kecil terbang di jalan
Sedang bidadari menari di ranjang
Tanpa terlihat malu hanya demi makan
Walau bapak dan bunda siap menendang

Ingin kulepas kaca mata tuanku
Agar aku tidak terbelenggu
Meski cinta tetap kutunggu
Tergulai di rumahku yang lalu

Kembali kumemandang jauh dari jendela
Entah apa yang ingin aku sapa
Sedang dijalan burung-burung kecil masih terbang
Dalam remang sang bidadari masih berderai di ranjang

                                                                Mataram  2013.

Mencari Purnama



Mencari Purnama
:  perempuan-perempuan Indonesia.

Bukan purnama lagi  aku damba
Rembulan murung kini aku puja
Bukan senja lagi di pelupuk mata
Gelap tanpa terang memandang di muka

Tuan jiwaku hendak berkata
Pada siapa hatimu melabuh cinta
Mulut kaku enggan berkata
Karena dia ada yang punya

Kemana lagi kaki mesti melangkah
Sedang disini hati gundah
Sudah bermusim kumerasa lelah
Menahan diri karena resah

Purnama mana lagi yang mesti ku puja
Rembulan murung dimana-mana
Entah siapa harus kucinta
Perempuanku sudah ternoda

Apakah purnama masih ada?
Antara jutaan rembulan murung merana

                                                          Gusmiadi
                                                          3 mei 2013

Kawan yang Tidak Mau Tercampakan



Kawan yang Tidak Mau Tercampakan

Pejamlah sejenak matamu
Kektika matahari tak terlihat lagi di barat sana
Lepaslah penak dahagamu
Meski mimpi mngusikmu tak sengaja

Esok hari menantimu untuk berjalan
Meski di jalan penuh kendaraan
Bagai bunga mekar di taman
Sepertimu, iapun tak ingin tercampakan

Tersenyumlah kawan
Meski zaman kau anggap edan
Ini adalah beban
Semestinya kita harus lawan

Tataplah orang di bangunan kaca itu
Meskipun bibirnya tersenyum
Belum tentu dia mampu bertahan sepertimu

Kawan, teruslah kau melangkah
Janganlah engkau lengah
Janganlah engkau resah
Meski perjalananmu terasa lelah


KUMPULAN PUISI SAJAK CINTA LELAKI YANG TERBUANG



Bercerita Dengan Malam

Hujan kembali menyapaku dalam malam
Terdiam lagi aku tanpa kata yang akan membuat aku lebih tenang
Binatang malampun enggan mau bernyanyi meski irama hujan terus mengalun
Kini aku lemah dengan rasa yang menghantui fikiranku
Takut
Bingung
Bimbang
Itulah yang aku rasakan ketika hujan dan dinginnya angin malam menghampiri

Aku memang berada di sampingmu
Tetapi keberadaanku malah membuat aku jadi layu dalam seribu bahasa cinta

Gelap
Gelap fikiranku saat aku ingin merasakan rasa hangat duniamu
Meski mentari esok pagi akan cerah dan memancarkan panasnya


DEWIKU

Jangan kau berfikir aku seperti yang kau lihat
Bisa saja pandanganmu menipu hatimu
Karna ku tak seperti yang engkau lihat

Hitam mungkin dimatamu tentangku
Tapi cobalah lihat putih disisi gelapku

Aku memang seperti ini dan akan tetap seperti ini
Seperti yang kau lihat dengan mata indahmu
Kini aku lemah dihadapmu
Ketika kulihat halus lembut wajahmu

Apa yang membuat hati ini menjadi bimbang
Bimbang ketika ingin terlelap
Kenapa raga ini gemetar
Saat engkau menyapaku dengan tutur lembutmu

Kau begitu indah dimataku
Bagaikan dewi yg kuinginkan
Aku memang mencintaimu
Tapi cintaku mungkin hanya akan bersandar
Tanpa menjalaninya bersamamu.

Aku tetap disini untukmu…
Love you….




Harapan Terbesar

Aku sadar dengan semua yang terjadi denganku
Aku tahu sekian lama aku sendiri
Hati ini  sudah lama tak ada yang mrmilikinya
Karna kubelum sanggup melupakan dia begitu cepat

Kini kau datang dengan sebuah senyuman
Yang mampu membuatku melupakan dirinya
Kau mampu merenggut semuanya
Hati, jiwa, senyuman dan fikiranku

Akupun mencintaimu dengan sebuah ketulusan
Dan itu adalah suatu hal yang istimewa dalam hidupku
Aku tak mau kali ini kau mengecewakan hatiku
Karna memilikimu adalah harapan terbesar di dalam hidupku.

Bila harapan besar ini kudapat
Engkau akan jadi harta terbesar yang terindah dihatiku
Semoga ini akan selamanya indah
Bersama cinta dan senyumanmu

Bulan…
Bintang…
Katakana padanya aku mencintainya
Katakana padanya aku sangat merindukannya
Sampaikan padanya aku menginginkannya.




Hujan sore
Aku terbaring dipusara hariku
Kala gemuruh dilangit mulai berontak
Kubuka jendela kamarku
Ketika matahari tak kulihat

Aku terdiam dalam ucapanku
Ketika gerimis miris mengikis tanah kering
Jiwaku melanhkah dalam diam ragaku
Dan hatiku berlari mengetuk rumahmu

Tak ada yang membuka
Tak ada yang menyapa
Karna kau tak ada dirumahmu

Entah dimana dirimu
Namun aku terdiam didepan rumahmu
Bersama dinginnya hujan sore ini
Mengikis hangat di sekucur tubuhku

Namun engkaupun tak kunjung jua


HUJAN

Disini aku terdiam tanpa ada sebuah kata yang terucap
Dingin mala mini aku lalui tanpa ada sebuah senyuman manis yang mungkin bisa jadi cerita
Kadang aku berfikir tentang sepi malam ini
Bersama irama tetesan air hujan yang jatuh tergenang di atas tanah basah
Bersama irama binatang malam yang yang menyapa dalam hening malam

Ingin kuterawang mimpi dalam bayangan saat mata tak bisa kupejam
Ingin kumenari bersama alunan melodi angin yang bertiup pelan di kulitku

Jalanku memang sudah seperti ini
Kadang begitu lurus, dan kadang begitu menyesatkan diriku sendiri
Ingin kumelangkah bersama cinta yang seperti bintang
Agar slalu ada penerang ketika kulewati jalan gelap dalam hidupku

Aku memang manusia yang rapuh
Namun hatiku tak serapuh yang bisa begitu saja di genggam dan hancur
Karna aku juga adalah manusia yang bisa berfikir saat aku teraniaya pahitnya sebuah cinta

Kapan aku harus bisa membawa pelangi diatas alas kehangatan
Yang akan membawaku dan menuntunku bisa terbang di langit dengan khayalan

Kini hujan malam ini yang jadi saksi mati dalam malamku
Ketika kugoreskan kenangan hati yang tiada henti bergejolak
Dan hujan malam ini yang menghentikan sejenak langkahku untuk sepercik harapan tak pasti
Akupun terdiam dan membisu
Menatap hujan mala mini yang menghalangiku untuk mengayunkah langkah demi langkahku.

Hujan andai kau bisa bicara denganku
Andai kau bisa dengar apa yang ada dihatiku
Tolong, katakana padaku
Apa maumu?




“INILAH JAWABAN ATAS DIAMKU”
Buat Orang Yang Merasakannya
Aku tahu raga ini begitu lelah.
Aku tahu raga ini terasa akan rapuh.
Namun kenapa engkau bangunkan aku disaat aku terlelap dalam mimpiku.

Tak pernah kubayangkan apa yang akan terjadi mala mini.
Kau mengirimkan aku sebuh pesan pendek, pesan pendek yang membuatku tak bisa memejamkan mata ini untuk menjemput lagi mimpi indahku.
Hanya beberapa kata yang terucap dalam pesan pendek itu, namun seketika membuatku tak berdaya.

Masih kau ingat pertama kita bertemu dahulu.
Aku merasa engkau adalah seorang dewi yang datang untuk mengisi kesepian hatiku saat ku menatap mata di wajahmu dan menjabat lembut tanganmu.
Engkau seolah-olah mencairkan beku darahku yang mengalir hangat di nadiku.
Tapi aku terdiam dengan apa yang aku rasakan seolah tak ingin kau tahu aku menginginkanmu.

Waktu itu aku adalah sebuah batu krikil yang tersapu jejak langkahmu bersama orang lain.
Terdiam dan membisu melihat senyuman manismu meski kutahu hatimu teraniaya cinta.

Akupun masih bertahan dengan apa yang aku rasakan padamu.
Mengharapkan cintamu tanpa kau sadari sedikitpun.
Dan kini engkau tahu apa rasaku sebenarnya untukmu.
Inilah akhir dari harapanku selama aku terdiam, dari pesan pendek yang kau ucapkan.
“maaf kak, tapi mungkin saya menyerah.”
Ini adalah kata manismu untuk menyampaikan apa yang ada dihatimu.
Malam ini kugoreskan tinta hitam di atas putih ini,karna aku tidak tahu dengan siapa aku harus menyampaikan risalah hatiku akibat cinta yang memang penuh dengan resiko.

Buat engkau yang ada disana terima kasih ya, atas semua pertanyaan bisu yang membebaniku selama ini. Dan inilah kata terakhirku yang mungkin saja masih kau ingat.
“Engkau yang telah mengetuk pintu hatiku. Kalau engkau ingin masuk, masuklah dan kunci dengan rapat. Jagalah hati ini dan jangan sampai orang lain masuk meski ribuan cinta yang mengetuknya.
Bila engkau tak mau masuk di hati ini, tolong, tutup dan kuncilah kembali pintu hati ini, dan entah sampai kapan pintu hati ini akan terbuka kembali. Pintu hati ini akan menunggu orang yang mau membukanya dan memilikinya, entah kamu?
Ataupun orang lain.




Jalan Yang Belum Terlampaui

Sebuah rasa saat langit begitu cerah
Terbayang senyum manis ketika purnama
Menghalangi langkah menuju kesana
Melihat embun pagi berguguran

Angin berhembus jauh disana
Menerawang mimpi ketika terindukan
Jalan berbatu tak semulus hati
Menyanyikan sebuah lagu seorang diri

Jalan panjang belum selesai terlalui
Menyesatkan raga di persimpangan
Mata memudar tak tahu arah
Ketika rapuh makin Merapuh.










Kesepian

Dingin malam terus menghampiri peraduanmu saat bintang enggan berkilauan.
Terdengar alunan melodi tua ketika raga rapuh dalam bayangan sebuah cinta.
Kumenari di atas senyuman yang terukir dalam angan
Inikah jawaban atas kerinduan yang pernah kutemukan
Bagai merpati tak bisa terbang terkapar di dasar hati
Sayapnya pupus terurai dan tercampakan

Inikah akhir semua perjalanan hati yang terluka
Berlalu tanpa sebuah arti yang akan menjadi warna hidup ini
Kau yang disana , dengan sejuta senyuman
Sedang kudisini tanpa kata

Hanya dirimulah yang terbayang
Keika hampa semakin kurasa
Dalam penantian sebuah cinta yang tak mungkin kudapat
Oh…bulan dan bintang

Walau kumembisu disini tanpa sebuah kata yang akan jadi cerita
Didalam anganku masih ada namamu yang akan membawa arti
Yang akan menjadi penyejuk meski akan tetap membawa luka
Karna dirimulah aku seperti ini.




KETIKA HATI BERGELUT DENGAN CINTA
Angin ini yang ingin kurasakan dalam sepi menjelma
Ketika aku tak sadar akan jiwaku yang sedang dilanda resah dan gelisah
Ingin kubawa mimpiku dalam lelah yang tak tau kapan harus berakhir
Hingga nanti mentari terbenam digaris ujung pantai selatan

Kini aku hanya bergelut dengan cinta
Menahan perih hati ketika engkau tak lagi disisiku
Tapi engkau akan selalu hidup dan bersemayam dihatiku.










SAAT KUMULAI GELISAH DENGAN SEPIKU

sebenarnya aku tlah lelah dengan semua ini
membayangkan sesuatu yang tak mesti aku jalani
merangkai mimpi dengan kepalsuan yang tak perlu.

ingin kuberhenti melawan arus
ketika kereta tak lagi berjalan
ingin kugenggam pelangi saat rintihan hujan tak lagi kudapat

ingin kumenari dengan cahaya
ingin kubernyanyi dengan alam
ketika kurapuh dalam angan

dimana aku mesti berpijak
dimana aku mesti berjalan
saat aku kehilangan arah

kini damaiku disini tanpa ada kisah disisiku
saat embun pagi mulai hangat berguguran terhempas keringnya dunia

dimana mesti kucari
seharum cinta yang akan membawa warna
saat jemariku tak lagi bisa mengukir cerita

disini kumasih sendiri
bergelut dengan waktu mencari sebuah cinta
saat fajar mulai terlelap.


Sajak Pohon Tua

menulis sajak cinta dipohon tua
terukir dengan baik dua buah nama
yang dihiasi kingkaran hati tanda keindahan

pohon tua selalu tegar
meskipun usia makin menjelang

kini pohon tua ditinggalkan
namun dua buah nama masih tetap indah
meski lumut lembut menyelimuti

sekian lama tertinggalkan
kini engkau disapa kembali

pohon tua
pengorbananmu begitu berharga
menghabiskan sisa hidupmu
demi menjaga dua buah nama yang sudah berpisah




TANGIS DAN SENYUMAN
Masihkah engkau rasakan hangat pelukku
Masihkah engkau ingat tangismu di pundakku
Aku masih mengingat dan merasakannya
Tapi mungkin bagimu, itu masa lalu yang sia-sia

Cinta itu memang buta
Meski janji yang terucap begitu indah

Engkau melangkah jauh dengan pesonamu
Bermain cinta dengan cucu sang adam
Seperti putrid dan pangeran di negri dongeng
Dalam kedua bola mataku

Aku seperti sekuntum mawar tua
Dengan mahkota embun pagi
yang penuh dengan sebuah pengharapan
Harapan yang sia-sia, ketika satu persatu kelopakku
jatuh berguguran disapa badai cintamu

Di persinggahan ini aku terdiam dan membisu
menunggu sebuah cinta
Seperti seekor laba-laba yang menunggu jaring cintanya
menjerat sebuah hati yang indah
Aku tahu  engkau bahagia dengan apa yang engkau jalani
Meskipun aku menangis dalam hatiku,
namun senyumanku akan selalu menyapamu



Memeluk Sang Rembulan
Terdiam bukan berarti tak mampu atau tak bisa bicara. Menanti cahaya menopang kehidupan yang mungkin sudah tak ada artinya. Bebas menerawang menatap lurus kedepan,walaupun  kadang berliku terlampaui. Menghembuskan nafas panjang yang semakin sesak dan melemah, namun tak akan membuat alam membisu mencari penghuni yang membutuhkan aroma dan kesejukan. Terkadang dunia yang kekeringan dan mulai retak membuka suara mengangkat tangan yang tinggi mengeluh akan nasibnya brsama cahaya bintang di langit. Terukir melodi cinta kala bayangan semu tak lagi terasa antara lambaian tangan perpisahan.
Ingin kuukir cerita di telapak bumi antara resah  gelisah mentari yang terselimuti gelap awan di pagi sore senja.  Melodi kenangan yang pernah tercipta antara aku engkau dan dirinya kini menjadi sejarah dalam perjalananku untuk mencari satu kehidupan. Memang berat terasa  ketika aku sendiri tanpa ada kawan, tanpa ada cinta yang menemani langkahku berjalan menyusuri dunia antara daun-daun kering dan ranting-ranting patah terurai. Kadang ingin sekali aku memeluk sang rembulan kala kuterlelap. Ingin sekali kumemeluk bintang saat malam kian pergi.
Kini disini aku merasa hampa di antara ribuan hembusan nafas yang penuh dengan dosa yang tak jelas. Namun ketegaran slalu menemani. Kuyakin akan ada sebuah cahaya penerang yang akan menerangi hampa dan gelap hati ini.



YANG AKU PIKIRKAN

Meratap sunyi yang menyapa
Merangkai mimpi dalam sayup damai
Bergerimis hujan di padang ilalang
Mata terpejam saat malam

Aku menyapamu dibawah purnama
Ketika serigala mengaung di hutan
Aku bercerita pada lentik matamu
Ketika kubelai rambut panjangmu

Jangan kau tertawa
Jangan kau mengelak
Bila sayap patah sang bidadari ada digenggamanku

Cinta
Bagaikan setetes embun pagi yang berguguran
Indah bila disapa mentari
Namun musnah disapa bumi



SEBENARNYA AKU JUGA SAMA SEPERTI yg KAU RASA

Masih kau ingat saat pertama kita bertemu
Kau sapa aku dengan manjamu
Entah apa yang kau lihat dariku
Tapi aku tak peduli dengan itu semua

Aku memang ingin bisa mengenalmu
Tapi ku tak mau ku jadi beban dalam hidupmu
Aku masih sendiri sampai saat ini
Tanpa indahnya sebuah cinta

Aku bingung dengan kehidupanku
Aku bingung dengan perjalan pahit cintaku
Kaupun berlalu dalam hari-hariku
Dan kini kaupun datang dengan cintamu

Tak mau dan tak bisa aku pungkiri
Sebenarnya aku juga mencintaimu
Tapi kenapa kau hadirkan cintamu untukku dan
Cintamu untuk dirinya

Knapa disaat aku mau membuka hatiku untukmu
Kau ada yang memiliki,
meski ku tahu kau mencintaiku dewi.

Kini aku hanya bisa melihatmu tersenyum dengannya
Walaupun dihatimu kau mengharapkanku
Tapi apa yang bisa kulakukan
Engkau bahagia akupun akan merasakannya
Walaupun aku tak rela engkau bersamanya.






KERIKIL  DIBAWAH TELAPAK KAKI
Aku tak pernah tau dan tak pernah sadari dengan apa yang pernah terjdi dengan diriku. Walaupun aku selalu melangkah kedepan dan terkadang membalikkan raga ini kebelakang namun tetap satu tujuan yaitu meraih cita-cita dan cinta. Goresan ini adalah sebagian dari saksi hidupku, melangkah menjejaki langkah demi langkahdalam naskah Tuhan yang tak tahu akhirnya menjadi misteri dalam pikiranku.Aku bertanya pada Tuhan dalam sujud malamku,kenapa skenario kehidupan yang kumainkan begitu sulit. Mengapa tidak semudah skenario  yang aku jalani ketika aku bermain teater bersama kawan-kawanku. Kadang air mata ini tak mampu terbendung saat merasakan kehampaan hati yang menyelimuti resah dan risauku ketika satu cinta yang aku miliki tiba-tiba pergi tanpa penjelasan dari pertanyaan-pertanyaan dan tetap menjadi pertanyaan hati yang terluka. Di satu kehidupan kumerasakan  sebuah senyum manis dan tawa menyelimuti bibir mungil nan indah, yang dahulu pernah kurasakan kecupan hangat sebuah cinta yang menghanyutkan damaiku pada sebuah harapan besar yang terbersit dalam angan-angan hati cucu sang Adam, yaitu menjadikan titisan sang hawa dalam sebuah keluarga bahagia yang sakinah, mawadah dan warahmah. Harapan itu selalu menghantui dan mengganggu pikiranku dikala purnama sang penerang malam menyapaku ketika kududuk terdiam bertanya pada angin malam, bertanya pada merdunya binatang kecil yang mengejekku ketika kuteteskan air mata kala kumerintih merindukan sosok gadis yang sedang bahagia disana. Sejujurnya aku malu pada diriku sendiri, pada batu yang membisu, pada rumput yang menari dan pada burung-burung yang berkicau dipagi hari.
Rindu hanya kerinduan yang aku rasakan saat hati ini menyebut dan memanggil namamu. Rasa ingin berjumpa yang begitu besar,namun tak bias kudapatkan. Ternyata Tuhan belum siap mempertemukan aku dengannya, meski dalam do’a kumemohon agar aku bisa hidup bersamanya. Dan kini Tuhan masih terdiam dengan permintaan tulus yang datang dari gejolak hati yang gundah gulana tersakiti cinta. Teringat akan masa laluku bersamanya. Canda senyum dan tawa mengiringi saat kugenggam tangannya.  Berdua berjalan melangkah diikuti bayangan bahagia di atas air kolam cinta. Masih kurasakan hangat peluknya saat duduk berdampingan kala ia bersandar dipundakku dengan belaian lembut tanganku pada helai rambut panjangnya. Ingin lagi kurasakan masa-masa indah itu bersamanya. Tapi, sekarang aku bagaikan kerikil dibawah telapak kaki yang terinjak-injak senyuman manisnya bersama orang lain yang membuat semuanya berubah.
Hari demi hari dan waktu berlalu tanpanya. Aku meraskan kesepian yang begitu mendalam. Hingga pada suatu hari hadirlah sosok seorang gadis di hatiku, namun terasa biasa saja karna hati ini masih merasakan luka. Seiring perjalananku sendiri mengobati luka, sedikit warna tersirat pada gadis ini. Ia mampu membuatku tersenyum dan tertawa,yang kadang mampu membuatku lebih tenang dan melupakan baying-bayang yang menyiksa dihati.
Namun warna itupun tak lama kurasakan indahnya, perlahan melepuh tersapu embun pagi kerinduan yang terlahir saat kupejamkan mata dalam mimpi. Meski aku bias tersenyum dan tertawa tapi belum mampu mengobati hati yang masih penuh dengan luka yang tak pernah mongering. Begitu banyak gadis yang mengetuk hati ini , tak satupun yang  bisa mengganti dirinya. Begitu tulus dan sucinya hati ini mencintai dirinya, namun perasaan ini sudah kehilangan daya dan upaya untuk bisa berjumpa lagi bersamanya. Hingga pada suatu saat aku coba bertahan  untuk bisa melupakannya dan membiarkan lukaku tak terurus. Namun perihnya tak mau menghilang, hingga air mata ini bergeliimang tak berdaya ingin bertemu. Ternyata Tuhan menjawab do’aku , walaupun masih ada keraguan dan ketakutan di benakku. Apakah dia masih mengenalku atau tidak, keraguan it uterus menghantui pikiranku. Tapi aku tak mau lemah dan menyerah dengan itu semua. Aku hanya manusia biasa yang berusaha untuk kuat. Tak ada daya yang mungkin bisa aku lakukan,hanya kata dan do’a yang terucap di bibir yang kaku ini. Rasa ingin bersamanya begitu besar.  Terkadang aku malu, aku malu pada raut muka sedih sang purnama yang menatapku di balik awan.
***
Dan kini akupun masih sendiri mengobati perihku. Perih yang merusak syarafku untuk tersenyum, perih yang merubah kehidupanku hingga aku lupa akan diriku sendiri. Bintang malam masih bersinar di langit gelap. Walaupun bulan masih tetap malu menyapaku dalam haru pilluku. Dan binatang malam masih bernyayi riang mengejekku karena  sebuah kegagalan. Meski segala rasa telah aku tumpahkan begitu saja di hadapannya. Tapi kenapa,,,??? Kenapa ia tak mau merasa dan menganggapnya ada. Mungkin dimatanya aku hanyalah duri-duri tajam yang mungkin saja suatu saat bisa melukainya. Tapi sungguh aku adalah insan yang sangat mencintainya dengan kesungguhan dan ketulusan yang sebenarnya sangat indah. mungkin ini akan tetap menjadi garis hidup yang tak akan bisa sempurna untukku. Karna jalan bereliku yang harus kutempuh masih begitu panjang yang tak tahu aku dimana ujung yang masih kucari tempat kuberhenti dan bersandar. Meskipun begitu warna kehidupan yang aku rasa tak pernah redup, walau begitu besar ujian yang terus menghampiriku disaat aku ingin dekat denganmu.
Begitu kacau pikiranku,kepala ini seakan mau meledak seperti bom yang berpacu dengan waktu, terpompa aliran darah yang mengalir menelusuri urat-urat di dalam tubuh. Seperti jiwa ini juga makin kacau saat bayang-bayang namamu mulai teringat. Ingin sekali kulupakan masa lalu bersamamu, walaupun masa-masa itu indah. Seperti jingga di langit senja yang pelan-pelan semakin menghilang oleg sang malam. Seperti itulah yang aku rasakn padamu, meskipun sangat indah namun teta terasa hampa. Dan ini tak akan pernah aku pungkiribila keadaan ini terus aku alami. Aku tahu dan sadar tuhan lebih senang melihatku seperti ini, karna ini ujian dari-Nya.
Mentari pagi bersinar begitu indah, menghangatkan embun pagi yang berguguran jatuh terhempas terhisap dunia. Akupun terus melangkahkan kakiku dalam sepiku. Walau cinta di hatinya mungkin tak bisa kumiliki lagi. Walau janji yang pernah terucap olehnya mungkin juga tak akan bisa ditepati. Aku akan tetap menjadi diriku sendiri yang terhanyut menjadi korban sebuah cinta. Dan kini saatnya aku harus berfikir semua yang aku jalani ini ternyata salah. Masa depan menantiku. Tapi apakah aku harus menyerah menghadapimu. Mungkin iya,,,aku harus mengalah


untuk kebahagiaanmu. Aku mengalah dan menyerah bukan karna aku lemah, karna mengalah itu merupakan suatu kekuatan. Kekuatan untuk bangkit dari kegagalan cinta yang akan menjadi pelajaran untuk sebuah cinta yang abadi.
Akupun harus pergi darinya seiring dengan berakhirnya goresan-goresan ini yang tercipta dari perasaan tulus kala aku memikirkannya. Selamat tinggal cinta, selamat tinggal adinda. Sudah waktunya aku harus melanjutkan perjalananku untuk mencari cinta sejati yang lainnya. Walaupun tanpa tujuan yang pasti kemana aku akan melangkah. Namun terus kuayunkan langkahh kakiku seiring hembusan angin di balik daun-daun kering dan ranting-ranting patah terurai. Meskipun terkadang aku haarus berhenti sejenak melepaqs penak dahaga yang aku rasakan, sampai nanti, sampai kuayunkan lagi langkah kakiku untuk mencari sosok cinta seperti yang dia miliki. Terima kasih engkau telah mengajarkanku apa itu kesetiaan yang sesungguhnya,,Adinda.
***

Kegalauan Hati
Waktu itu jam 6 sore, matahari mulai perlahan menghampiri garis pantai barat.
Aku duduk terdiam menerawang waktu yang berjalan antara bayangan semu menghampiri keresahan hati yang membuat jiwa semakin hampa.
Ingin kuberjalan melintasi aroma angin yang menusuk hembusan keringat yang akan menjadikan sebuah kesejukan.
Deburan ombak mulai perlahan berbisik pada pasir dan karang yang akan menjadi penopang bumi yang terhempas kerasnya kehidupan.
Ingin kuberlari dalam lelahku yang  seakan rapuh dalam nyanyian angin.
Disini aku mengukir sebuah cerita dalam damai yang mungkin saja bisa membuatku tersenyum dalam menggapai mimpi.


Dalam Sebuah Pencarian

Perjalanan mencari sebuah cinta sejati
Walau tanpa tujuan yang pasti
Terus kuayunkan langkah kakiku
Seiring dengan hembusan angin

Kadang aku lelah
Kadang aku lemah
Kadang aku ragu dan
Kadang aku risau

Namun demi sebuah cinta yang akan menjadi penopang hidupku nanti, aku tak akan gentar
Aku pasti mampu bertahan
Menambatkan sebuah cinta di pelabuhan hati
Meski ombak mengadang
Meski badai menyapa
Aku pasti mampu

Kini aku terdiam sejenak
Melepas penak dahaga yang kurasakan
Sampai nanti
Sampai kuayunkan lagi langkah kakiku
Untuk mencari sosok cinta
Seperti yang aku dambakan



Gelisah Malamku

Menyambut mentari dalam kebimbangan
Menelaah waktu dalam pesona
Menanti cahaya dalam kegelapan
Merangkul impian di dalam impian

Bejalan menyusuri arah
Berpacu mengepakkan tangan
Melambai hati yang goyah
Meratap dunia dalam nista

Angin malam yang menyapa
Bersama rembulan dibalik awan
Melihat bintang di tanah lapang
Teringat wajah dirimu seorang

Hanya binatang malam yang menyapa
Ketika raga terembun malam
Ingin kudekap langkah merona
Saat mata ingin terlelap





Cerita Malamku

Terdiam dalam keramaian hembusan nafas
Dibawah langit malam aku berpacu dengan embun
Berbisik manja pada riuh tawa
Saat dinginnya raga berselimut manja

Ingin kutawarkan senyuman manis
Namun begitu berat untuk disampaikan
Ketika dinginnya malam semakin menyapa

Langit malam yang gelap
Berselimutkan awan hitam
Tanpa kedip bintang yang menghiasi

Ingin sekali aku berlaridan berteriak
Ingin sekali aku berontak
Namun daya dan upayaku yang tak ada






Jangan Katakan Cinta

Aku memang sangat mencintaimu.
Harapan terbesarku hanya untukmu

Kenangan yang terukir emang indah dan takkan terlupakan seumur hidupku.
Engkau yang memberiku cinta
Engkau yang memberiku sayang dan
Engkau yang memberiku kehangatan

Aku tak tahu sejauh mana hubungan ini akan berjalan
Mengingat di satu sisi engkau adalah miliknya

Mungkin dimatamu aku bukanlah apa-apa untukmu
Begitupun yang kurasa, aku bukanlah orang yang pantas untukmu
Aku sadar siapa diriku
Aku hanyalah lelaki dekil yang hina haus akan kehangatan
Tidak aku salahkan bila kau menilaiku seperti itu
Karena kenyataannya memanglah seperti itu.

Tapi tidak dengan cintaku.
Ketulusan cintaku untukmu mungkin tak akan pernah kau mengerti
Dan keinginanku untuk memilikimu mungkin tak pernah kau hargai
Tapi ini adalah kenyataan pahit yang memang harus aku jalani.

Dan kini aku hanyalah insan yang mengharapkan satu hati, satu cinta, satu kerinduan untuk satu tujuan yaitu bisa hidup bersamamu.

Dan malam ini aku ukir kalimat manja untuk menenangkan air mataku yang seakan bergejolak ingin tumpah di muka bumi
Bersama bayanganmu yang menghampiri dan berlalu lalang di benakku





Maaf ...
Maaf adalah satu kata yang akan menjadi harapan untukku agar engkau bisa tersenyum.
Tertawa dalam menjalani kehidupan cinta bersama dirinya
Aku memang resah
Aku memang gelisah
Dan sejujurnya aku tak rela engkau bersamanya
Karna aku sangat mencintaimu

Aku mohon...
Jangan kau tangisi aku seperti dulu
Ketika aku marah padamu
Ketika aku jauh darimu

Meskipun kerinduan dan keinginanku utukk bersamamu begitu besar
Tapi apalah daya yang bisa aku lakukan
Engkau masih bersama dirinya yang mungkin tak akan kau lepaskan

Hanya satu yang kuharap hanya ada aku dan kamu

Biarkanlah berlalu,memang harus ada yang dikorbankan dan tersakiti
Biarlah itu diriku,meskipun aku akan tetap mencintaimu dan tak akan pernah melupakan kenagan indah bersamamu.

Berikanlah cintamu untuknya dan bahagiakanlah dirinya, dan
Jangan kau katakan cinta padaku bila kata itu masih kau ucapkan untuknya.






Tidak ada yang salah di dirimu ketika perasaanmu mengatakan bahwa aku adalah seseorang yang engkau cintai. Sahabatku, tidak pernah salah bagi siapapun untuk mencintai seseorang yang layak untuk dicintai. Tidak juga salah bagimu, ketika akhirnya mencintaiku.

Hari ini engkau menuliskan pesan pendek untukku. Kamu bilang kamu tulus mencintaiku. Sungguh, aku tidak tahu apakah benar ketulusan itu sebagaimana yang kau ucapkan, atau sesungguhnya pesan itu hanyalah sebaris kalimat penuh pengharapan agar aku mau menerima dirimu sebagai pendampingku. Sahabatku, tidak sedikitpun aku ingin memprotesmu atau meragukan tulisan pendek itu. Tiada guna bagiku hidup dengan keraguan atau kecurigaan.

Sahabatku, tiada henti ku ucap terimakasih karena engkau telah menyayangiku, meski engkau belum sepenuhnya mengerti baik burukku. Melihat sikapmu, aku jadi menyimpulkan bahwa cinta ternyata juga penuh resiko.

Sahabatku, semoga engkau tetap bisa menjadi sahabatku. Semoga esok, ketulusan cinta yang kau tuliskan terwujud dalam sebuah kebesaran hati untuk menerima kenyataan hidup bahwasannya seluruh perasaan dan perhatianku untuk seseorang yang telah lama kucintai. Aku pikir kamu sudah lebih dari tahu, pada siapa sesungguhnya seluruh perasaanku bermuara, mengingat awalnya kedekatan kita kupikir hanya sebatas persahabatan biasa dari dua insan beda jenis saja.
Sahabatku, andai aku bukanlah seorang yang tidak menghargai keberadaanmu, mungkin aku sudah memilih untuk marah kepadamu, sebab telah mengkhianati kepercayaanku yang menganggapmu sebagai seorang sahabat. Itu sama seperti kamu memanfaatkan seluruh informasi pribadi seputar diriku untuk meraih simpati dan perasaanku. Bukankah cinta yang tulus harusnya menyadarkan dirimu bahwa seluruh cinta tulusku sudah kucurahkan pada ia yang kucintai sekian tahun terakhir ini?

Sahabatku, tanpa bermaksud mengguruimu, mungkin sedikit pengalaman hidupku bisa sedikit kau ambil pelajaran tentang seperti apa cinta tulus menurut pandanganku. Seperti kamu tahu, tidak sedikitpun aku pernah memaksakan perasaan sayangku kepadanya yang kucintai sepenuh hati. Hanya kubiarkan ia tahu dan terus merasakan bahwa aku memang tulus mencintai dan menyayanginya, tidak pernah aku memaksanya untuk melupakan atau berhenti mencari yang lain. Dan, untuk kau tahu, ia yang kucintai itu juga sungguh-sungguh mengerti tentang seperti apakah ketulusan itu sendiri.